Di Warkop pun Membaca Bisa Dilakukan

Oleh : Usman Roin

Ke warung kopi (warkop), tidak lupa membawa buku. Kebiasaan itulah yang kini penulis lakukan, guna menyemai tradisi membaca yang masih jomplang di pendidikan formal saja.

Coba pembaca berkeliling di Kabupaten Bojonegoro, keberadaan warkop tumbuh subur. Di sebelah kanan dan kiri jalan, banyak warkop dengan segala spesialisasinya hadir untuk membentuk budaya masyarakat senang ngopi.

Penulis menyadari, warkop yang identik nyantai, ngobrolkan hal-hal ringan sambil ngakak-ngakak, berlama-lama scroll kabar medsos, hingga menikmati game, jadi  menarik bila membawa buku.

Sebab dari hal nyantai itulah, untuk sementara gadget di geletakkan. Selanjutnya, beralih membuka buku yang dibawa, untuk kemudian dibaca secara perlahan-lahan.

Memang, kala membaca buku di warkop, terdapat tantangan kebisingan. Entah dari lalu lalang kendaraan bermotor, lalu teman yang kadang load speaker menikmati medsos, hingga orang jagongan berjamaah yang saling saut ganti berbicara.

Meski begitu, aktivitas membaca buku tetap bisa dilakukan. Pertama, memperlambat dalam baca. Artinya kala membaca buku, proses memperlambat mengeja kata via otak jadi solusi membaca tetap dilakukan dengan enjoy.

Kedua, membaca sambil bibir menirukan. Hal ini agar otak dan bibir terfokus dengan teks yang dibaca. Pada posisi ini yang diandalkan membaca buka sekadar kerja otak saja. Tetapi, mengikutkan bibir dalam aktivitas membaca dengan cara melafalkan teks satu ke teks berikutnya.

Ketiga, membawa buku yang selaras dengan kesukaan atau disiplin keilmuan. Sebagai contoh, penulis senang dengan pemikiran pendidikan Islam, maka buku yang penulis bawa di warkop berjudul “Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam” karya Prof. Abuddin Nata.

Keselarasan buku yang dibawa untuk dibaca di warkop bertujuan agar mempermudah pemahaman bahan yang dibaca. Apalagi, berbagai godaan di warkop –sebagaimana penulis sebutkan di atas, jadi tantangan agar membaca tetap bisa dilakukan.

Apalagi menurut Al-Qobisi dalam Abuddin Nata (2021:35), latihan membaca diberbagai tempat serta dalam ragam  kondisi, menurut beliau menjadi salah satu metode pembelajaran yang efektif.

Jika demikian adanya, keterampilan membaca buku di manapun perlu dibiasakan. Saat menunggu teman kala janjian, membaca bisa disempatkan. Kala jam istirahat kerja, membaca juga bisa dilakukan.

Apalagi kala nyantai di warkop, membaca buku sangat bisa dibentuk guna menambah khazanah pengetahuan yang masih belum banyak diketahui. Meminjam bahasa Antoni Ludfi Arifin (2013:18) dengan membiasakan membaca, akan membuat pemikiran senantiasa terbarukan.

Kebiasaan Baik Bukan Warisan

Dalam hal menciptakan kebiasaan baik –yaitu membaca, penulis sepakat dengan Ibnu Miskawaih (1398:65) bila itu bukan lahir dari warisan. Melainkan dari hadirnya usaha-usaha membiasakan membaca di manapun berada, tidak terkecuali kala di warkop.

Bagi beliau –Ibnu Miskawaih melalui masterpeacenya ‘Tahzib Al-Akhlak’, kebiasaan baik yang dalam terminologi beliau dinamakan ‘berakhlak’ perlu dilakukan perubahan konkrit dalam usahanya.

Bila usaha dimaksud dihubungkan dengan keterampilan membaca, berarti membaca tidak sekadar dilakukan di perpus sebagai lingkungan pendidikan saja, di keluarga, dan masyarakat sebagai lingkungan sosial juga perlu mendapatkan kampanye intensif.

Membaca di Luar Negeri

Semantara di luar negeri, membaca di ruang publik telah menjadi budaya. Mengutip ybkb.or.id, membaca bagi masyarakat Jepang terlihat jelas kala berada di transportasi umum di mana mereka membaca buku berukuran kecil yang mudah dibawa.

Bahkan kebiasaan membaca sambil berdiri (tachiyomi) di toko buku, juga banyak dilakukan. Sehingga, dari membaca sambil berdiri di toko tersebutlah, pembelian buku menjadi banyak dilakukan masyarakatnya.

Lain di Jepang, Finlandia memberi perhatian lebih berupa bingkisan buku kepada keluarga yang melahirkan bayi. Pondasi membaca dibangun rapi diinternal keluarga, sehingga membacakan dongen sebelum tidur menjadi kebiasaan orang tua kepada anak.

Adapun di Australia, program ‘Meet the Writers Book’ atau menghadirkan penulis favorite langsung ke hadapan siswa menjadi cara menghidupan aktivitas membaca.

Berkaca dari literasi di atas, sudah saatnya budaya membaca menjadi perhatian lebih lingkungan pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, terlebih masyarakat agar ia menjadi tradisi keseharian. Dan warkop, bisa jadi tampat stratagis seiring keberadaannya yang menjamur di Bojonegoro. *Penulis adalah Owner Penerbit Pena Abadi.

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *